Merelakan Status Kebintangan Sebagai Pelatih

Bagi penggemar sepakbola, barangkali ada yang sempat berpikir, di jajaran pelatih tidak banyak nama-nama pemain besar yang tercatat sukses di tim-tim elit dunia. Belum tercatat nama-nama David Beckham, Gabriel Batistuta atau Alesandro Del Piero misalnya. Di jajaran pelatih senior juga tidak. Dengan bermodalkan nama besar, Ruud Gullit pernah menjadi pelatih. Juga dengan Gianluca Vialli misalnya. Tetapi juga tidak menorehkan sejarah yang cukup bermakna. Yang ada malah pelatih besar dengan modal “nama besar yang sama sekali tidak besar”.

Kursi Panas Pelatih

Alex Ferguson, Sven Goran Eriksson, bahkan “the special one” Jose Mourinho pun bukanlah termasuk yang memiliki nama besar semasa menjadi pemain. Bahkan Joseph “Pep” Guardiola pun tidak pernah sungguh-sungguh menjadi primadona semasa menjadi pemain. Dalam hal ini, Zenedine Zidane mungkin adalah pengecualian.

Pepatah mengatakan, hidup sekali, lalu mati. Dan menjadi bintang pun hanya sekali. Itulah kenapa, seorang pemain besar tak akan pernah tahan menjadi pesakitan di pinggir lapangan. Sejumlah pemain bintang yang “besar dua kali” mengalami hal tersebut. Sebut saja Franz Beckenbauer dan Johan Cruyff. Mereka menjadi pemain besar sekaligus dapat mengulangi kebesarannya pada saat menjadi pelatih. Tapi tidak lama. Mereka segera mengambil kesempatan pertama begitu tiket mundur tersedia.

Bagi seorang bintang, sungguh tidaklah mengenakkan menjadi seorang pelatih. Obsesi tentang sebuah permainan yang bagus dan rancak hanya sebatas angan-angannya saja. Hanya berwujud harapan yang dinyatakan dengan pemberian motivasi, penyusunan strategi dan pola permainan serta formasi tim. Ketika obsesinya tidak sanggup diterjemahkan oleh anak asuhnya, ia pun menjadi pesakitan dan terpenjara oleh obsesinya sendiri. Situasi itulah yang menurut Marco Van Basten, tak pernah ingin dia merasakan.

Lain dengan Basten, Roberto Mancini agak berbeda. Mantan primadona Sampdoria bersama Gianluca Vialli dan bintang Lazio itu cukup bernyali menjalani penderitaan di bangku cadangan dengan status asisten pelatih di clubnya, Lazio merangkap “masih” pemain. Sebagai asisten pelatih, dia membantu sang manajer, Sven Goran Eriksson dalam menangani tugas kepelatihannya.

Roberto Mancini saat menjadi pemain

Semua tahu, bahwa posisi asisten pelatih adalah batu loncatan untuk menjadi pelatih sesungguhnya. Dan bagi mancini hanya soal waktu untuk menjadi pelatih kepala di Lazio, yang mana kemudian terbukti benar, Mancini menjadi pelatih Lazio, tim pertama yang dia tangani dalam status sebagai pelatih.
Dia termasuk legenda di Seri A dan bintang Lazio, mengundurkan diri sebagai pemain profesional pada saat lebih sering mendapat kesempatan bermain, dibanding bintang lain yang berposisi sama. Sebut saja Simone Inzaghi dan Alen Boksic. Usianya 35 tahun, artinya masih ada setidaknya semusim lagi dia bermain jika dia mau. Kalaupun tidak di klub besar semacam Lazio, club-club medioker sekelas Piacenza, Reggina, Lecce atau Bari misalnya, pasti dengan senang hati menyambutnya.

Di situlah menurut saya kearifan Mancini, yang memilih mundur dan publik Lazio harus mengucapkan selamat tinggal saat aksi-aksi jeniusnya masih berkelebat-kelebat dalam kenangan. Tak semua pemain searif Mancini. Banyak lagi yang tidak mau tahu kapan saatnya berhenti, kendati sudah terpental dari posisi di tim utama. Mereka rela berpeluh-peluh di klub gurem, bahkan di kasta kompetisi yang lebih rendah. Mungkin benar itu karena cintanya pada sepakbola. Tapi cinta itu sendiri bukanlah sepihak. Jika sepakbola sendiri sudah tidak lagi membuka pintu, yang terjadi adalah bertepuk sebelah tangan belaka.

Di sinilah kearifan dipertaruhkan. Mundur bukan masalah usia, tetapi masalah kejujuran hati nurani untuk melihat kapasitas dirinya, sejauh mana kapasitas itu memberi arti sukses bagi timnya. Memang justru di situlah masalahnya. Pensiun acapkali membuat seorang bintang merasa dalam kekalahan, sehingga membuat dia harus menelan kekalahan yang sebenarnya dengan membiarkan kariernya berakhir mengenaskan, tercampak dari klub dan dilupakan orang.

Kembali kepada Mancini. Yang menarik disini adalah proses yang dijalani oleh Mancini meniti karier kepelatihan. Dia lebih memilih rela berpayah-payah jalan yang lebih panjang daripada memilih jalan pintas sebagaimana yang dilakukan bekas tandemnya di Sampdoria, Gianluca Vialli atau Ruud Gullit misalnya. Kalau Mancini mau, bukan rahasialah saya kira dia bisa masuk begitu saja ke Sampdoria. Sejumlah klub di Seri B pun saya kira dengan senang hati akan membuka pitu lebar-lebar. Toh dia memilih magang dulu di Lazio.

Di samping Ericsson, dia belajar merasakan betapa cepat jantung berdegup secara tiba-tiba. Belajar bagaimana nyali menciut saat timnya dibombardir terus menerus oleh lawan. Kebanyakan pemain primadona cenderung gatal untuk turun tangan sendiri menghadapi tekanan seperti itu. Padahal, justru di situlah kunci kegagalan mereka yang tidak mampu menahan tekanan “yang lebih pada” emosi struktural yang sangat memenjara rasa sekaligus bikin gatal.

Nah, di sisi Sven Goran Ericsson, Mancini belajar membiasakan diri terpenjara dalam kegatalan itu. Sampai hari ini dia masih menjadi pelatih. Sepanjang karier kepelatihannya, dia menorehkan sejarah bagi klub tempatnya bekerja sebagai pelatih, baik di Fiorentina, Inter Milan, Manchester City dan lainnya. Barangkali kesuksesannya di berbagai tempat karena konsistensinya. Sepenuh hati ketika melatih suatu klub, dan melepasnya betul-betul pada saat dia sudah mengundurkan diri. Pada saat sudah mengundurkan diri dia harus percaya kepada suksesornya, dan mengalihkan kesungguhan untuk klub barunya. Salam

*Mohamad Fatkhurohman, 

penyuka sepakbola, bekerja di sekolah swasta di Wonosobo

Pustaka: “Sepakbola tanpa Batas” Bung M. Kusnaeni. , Penerbit Majalah Sportif.

Iklan
Share:
© 2018 Mahdaen.TV. All rights reserved.